Sebagai komitmen nyata mewujudkan program Diktisaintek Berdampak, Politeknik Negeri Nusa Utara (POLNUSTAR) menjalankan peran strategis melalui Program Revitalisasi Perguruan Tinggi Negeri Vokasi (PTNV). Program yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KEMDIKTISAINTEK) ini diarahkan untuk mendorong misi POLNUSTAR Berdampak, khususnya bagi pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pengolahan hasil perikanan dan kebaharian di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Berdasarkan penugasan dari KEMDIKTISAINTEK, POLNUSTAR yang memiliki core competence di bidang kebaharian, merancang serangkaian kegiatan penguatan yang komprehensif. Fokusnya adalah membangun ekosistem yang sinergis antara akademisi, regulator, perbankan, dan pelaku UMKM itu sendiri.
Program ini diawali dengan Forum Group Discussion (FGD) pada 8 Oktober 2025, yang berhasil menyatukan seluruh pemangku kepentingan kunci. Hadir dalam kesempatan tersebut POLNUSTAR sebagai agen teknologi, jajaran Pemerintah Daerah (Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perikanan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan), Loka POM Sangihe, Bank BNI, serta dua mitra UMKM binaan POLNUSTAR. FGD yang produktif ini berhasil melahirkan sebuah terobosan penting: Kesepakatan Pembentukan Ekosistem Co-Creation Produk Olahan Hasil Perikanan dan Kebaharian di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Direktur POLNUSTAR, Bapak Ferdinand Gansalangi, menyatakan bahwa kesepakatan ini adalah langkah strategis. “Ini bukan sekadar program, tapi sebuah gerakan kolaboratif. Dengan Ekosistem Co-Creation, kami ingin memastikan bahwa setiap inovasi dan teknologi yang dihasilkan kampus benar-benar menyentuh kebutuhan riil industri dan UMKM. POLNUSTAR hadir tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai mitra penggerak ekonomi biru di Nusa Utara,” ujarnya.
Untuk memastikan pendampingan yang dilakukan oleh dosen memiliki standar kompetensi yang tinggi, POLNUSTAR kemudian menyelenggarakan Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Dosen di Bidang Pengelolaan Higiene Sanitasi Makanan pada 21-22 Oktober 2025. Sertifikasi ini melengkapi kompetensi yang telah dimiliki para dosen di bidang Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Dengan bekal ini, dosen-dosen POLNUSTAR semakin siap mendampingi UMKM dalam memproduksi pangan yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Ketua Tim Kerja Program Revitalisasi ini, Bapak Eko Cahyono, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas internal ini. “Kami ‘mengasah golok’ terlebih dahulu. Dengan kompetensi yang terstandardisasi dan diakui secara nasional, para pendamping dari POLNUSTAR dapat memberikan solusi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada mitra UMKM. Ini adalah bentuk komitmen kami terhadap kualitas,” jelas Eko.
Berikutnya, untuk mendorong inovasi produk, digelar Workshop Diversifikasi Produk Olahan Perikanan dan Kebaharian pada 28-29 Oktober 2025. Workshop ini menghadirkan narasumber dari Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) Jakarta, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Para dosen Program Studi Pengolahan dan Penyimpanan Hasil Perikanan (P2HP) serta mitra UMKM binaan secara aktif terlibat untuk mengeksplorasi formula dan varian produk olahan yang memiliki nilai jual tinggi, seperti pillus tuna, sosis tuna, dan sea salt caramel cookies tuna.
Tidak hanya penguatan sumber daya manusia, program revitalisasi ini juga dilengkapi dengan pengadaan berbagai peralatan penunjang mutakhir, seperti alat cetak label kemasan, alat kemasan berbasis nitrogen, dan alat water reverse osmosis. Peralatan ini akan melengkapi fasilitas pengolahan yang telah dimiliki POLNUSTAR dari berbagai program sebelumnya, yang didanai KEMDIKTISAINTEK.
Melalui rangkaian kegiatan yang sistematis dan berkelanjutan ini, POLNUSTAR membuktikan komitmennya untuk menjadi institusi yang benar-benar berdampak. Beragam kegiatan yang telah dilaksanakan bukanlah tujuan akhir, melainkan modal awal dalam pembentukan Laboratorium Hidup Bidang Pengolahan dan Penyimpanan Hasil Perikanan.
Konsep Laboratorium Hidup (Living Lab) ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi Sumber Daya Perikanan dan Kebaharian di Wilayah Kepulauan Nusa Utara, yang karakteristiknya unik dengan luas wilayah lautan yang jauh lebih besar daripada daratan.
Kehadiran peralatan mutakhir dan Gedung Workshop yang sementara dibangun menjadi tulang pungung fisik dari Laboratorium Hidup ini. “Dukungan peralatan dari proyek SBSN, program competitive Fund Vokasi, program modernisasi peralatan laboratorium PTNV dan program revitalisasi PTNV bagi gedung workshop yang rencananya akan mulai beroperasi di 2027 adalah infrastruktur kunci bagi Laboratorium Hidup kami,” tegas Direktur Ferdinand Gansalangi. “Di situlah nanti teori bertemu praktik, inovasi bertemu dengan Dunia Industri, dan kampus benar-benar menyatu dengan denyut nadi ekonomi masyarakat kepulauan. Kami tidak hanya membangun gedung, tetapi membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan demikian, POLNUSTAR tidak hanya mengawal kemajuan UMKM dari hulu ke hilir, tetapi juga turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penerapan ilmu vokasi yang aplikatif dalam sebuah Laboratorium Hidup yang nyata.










Leave a Comment